Krisis
ekonomi merupakan musibah yang mengakibatkan pertumbuhan ekonomi yang melamban.
Pertumbuhan ekonomi yang melamban bukan berakar pada masalah karena kelemahan
pada sector moneter dan keuangan saja, melainkan pada tidak kuatnya struktur
sector ekonomi di riel dalam menghadapi gejolak dari luar (external shock) atau
gejolak dari dalam (internal shock). Sebelum krisis prioritas industry
pemerintah lebih memprioritaskan untuk mendahulukan industry hulu namun
mengabaikan industry hilir. Ada semacam statement bahwa kalau industry hulu
terbangun maka industry hilir akan mengikuti. Namun dalam kenyataanya
pemerintah mengabaikan konsep membangun industry hilir yang dapat dilaksanakan.
Sementara
itu industry industry besar yang terbangun tetap rawan gejolak luar tersebut
tidak memiliki suatu keterkaitan yang kuat baik kebelakang penyediaan imput
(backward linkage) maupun kedepan(forward linkage). Terlambatnya dipromosikan
UMKM dalam program membangun industry hilir dan pemihakan pemerintah terhadap
pengembangan usaha besar berakibat peran yang menonjol pada usaha besar. Dengan
terlambatnya dipromosikan industry hilir terjadi kepincangan yang cukup parah
ketika krisis asia melanda ekonomi. Ketika terjadi krisis industry besar
mengahadapi masalah serius sedangkan UMKM bekerja menurut ritme keunggulannya.
Dua pola pertumbuhan industry berbeda karena antara lain mengunakan bahan baku
bersumber dari dalam negeri, pemakaian tenaga kerja dengan upah yang rendah dan
relative cepat bergerak kearah penyesuaian pemakaian bahan baku dan
berorientasi pasar.
Ketiga
faktor diatas menempatkan UMKM disalah satu pihak mampu menunjukkan diri
menjadi usaha yang memiliki keunggulam daya saing dan dinamika dalam
pertumbuhan ekonomi bahkan para ahli melihat kenyataan dan berpendapat bahwa
proses pemulihan ekonomi yang ditunjang oleh meningkatnya peran UMKM secara
signifikan. Dengan demikian dapat disimpulkan terpisahnya faktor pengerak UMKM
dari industry besar merupakan suatu kerapuhan dalam struktur industry yang yang
ada sekarang. Hal ini menjadi buktiatas potensi UMKM dalam pemulihan krisis
ekonomi, yang muncul akibat kemampuannya untuk secara cepat mengubah dan
mengalihkan pasar input outputnya dari input yang mahal ke yang secara relative
lebih murah. Hal inilah menjadi menunjukkan bahwa selain sebagai penangkal
krisis juga memiliki peran yang sangat strategis dalam ekonomi suatu negara.
Pada pasca
krisis tahun 1997 di Indonesia, UMKM dapat membuktikan bahwa sektor ini dapat
menjadi tumpuan bagi perekonomian nasional. Hal ini dikarenakan UMKM mampu
bertahan dibandingkan dengan usaha besar lainnya yang cenderung mengalami
keterpurukan. Hal tersebut dibuktikan dengan semakin bertambahnya jumlah UMKM
setiap tahunnya. UMKM di negara berkembang hampir selalu merupakan kegiatan
ekonomi yang terbesar dalam jumlah dan kemampuannya dalam menyerap tenaga
kerja. Begitu pula dengan kondisi yang ada di Indonesia, meskipun dalam ukuran
sumbangan terhadap PDB belum cukup tinggi, sektor ini dapat tetap menjadi
tumpuan bagi stabilitas ekonomi nasional. Sehingga perannya diharapkan dapat
menciptakan kesejahteraan kepada masyarakat Indonesia.